Beberapa psikiater dan ilmuan yang mempelajari hypnotist menemukan bahwa hypnotist sendiri sangan kompleks dengan beberapa hal yang telah menjadi unsur-unsur di dalam diri manusia. Seperti misalnya intonasi suara, bahasa tubuh, gelombang otak, dan lain sebagainya. Kemudian hal-hal tersebut dipadukan dalam suatu stimulus yang kini secara garis besar di sebut hypnotist.
Secara ringkas, hypnotist adalah suatu proses menurunkan tingkat gelombang otak, sehingga berada pada diantara Alpha dan Tehta. Yaitu kedaan di mana seseorang mengalami trance atau tubuhnya beristirahat, namun alam fikiran bawah sadarnya masih dapat merespon informasi yang diberikan kepadanya.
Penemuan alat untuk mengukur gelombang otak berpengaruh positif terhadap perkembangan hypnotist itu sendiri. Hypnotist yang semula di anggap klienik, misterius, menakutkan, dan di anggap sebagai salah satu fenomena supranatural, sekarang sudah di terima secara ilmiah ebagai kondisi alami manusia.
Telah dilakukan penelitian terhadap sejumlah subyek, dan di peroleh hasil, bahwa subyek yang sedang berada di dalam kondisi hypnotist, gelombang otaknya berada diantara Alpha dan Tehta. Dalam kondisi terjaga, gelombang otak subyek pada umumnya adalah Beta, begitu dilakukan induksi maka gelombang otak subyek secara capat turun ke Alpha, dan setelah dilakukan proses deepning, otak subyek menunjukan gelombang Theta. Di yakini oleh para ilmuan, apa bila sedang otak memproduksi gelombang otak Theta yang dominan, maka pada saat itu sedang terjadi pemikiran alam bawah sadar.
Secara pengertian gelombang otak adalah jaringan otak manusia hidup yang menghasilkan gelombang listrik yang berflukturasi. Gelombang listrik inilah yang disebut dengan brainwave atau gelombang otak.
Dalam waktu yang bersamaan otak manusia mampu menghasilkan beberapa gelombang otak yang berbeda. Empat mjenis gelombang otak yang diproduksi pada umumnya oleh otak manusia adalah Beta, Alpha, Theta, dan Delta. Akan tetapi selalu ada jenis gelombang otak yang paling dominan yang menandakat aktifitas otak pada saat itu, dikarenakan gelombang otak menandakan aktifitas pikiran seorang manusia.
Jenis gelombang otak dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu :
Beta, frekuensi 12-25Hz.
Dominan pada saat kita dalam kondisi terjaga, menjalani aktifitas sehari-hari yang menuntut logika atau analisa tinggi. Misalnya pada saat mengerjakan soal berhitung, berdebat, olahraga, dan memikirkan hal-hal yang rumit. Gelombang otak beta memungkinkan seeorang memikirkan sampai 9 objek secara bersamaan.
Dominan pada saat kita dalam kondisi terjaga, menjalani aktifitas sehari-hari yang menuntut logika atau analisa tinggi. Misalnya pada saat mengerjakan soal berhitung, berdebat, olahraga, dan memikirkan hal-hal yang rumit. Gelombang otak beta memungkinkan seeorang memikirkan sampai 9 objek secara bersamaan.
Alpha, frekuensi 8-12Hz.
dominan pada saat tubuh dan pikiran rileks dan tetap waspada, misalnya ketika kita sedang membaca, menulis, berdoa, dan ketika kita focus terhadap sesuatu. Gelombang otak alpha berfungsi sebagai penghubung antara pikiran sadar dan fikiran alam bawah sadar. Alpha juga menandakan bahwa seseorang sedang berada dalam kondisi light trance atau hypnotist ringan.
dominan pada saat tubuh dan pikiran rileks dan tetap waspada, misalnya ketika kita sedang membaca, menulis, berdoa, dan ketika kita focus terhadap sesuatu. Gelombang otak alpha berfungsi sebagai penghubung antara pikiran sadar dan fikiran alam bawah sadar. Alpha juga menandakan bahwa seseorang sedang berada dalam kondisi light trance atau hypnotist ringan.
Tehta, frekuensi 4-8Hz.
dominan pada saat kita berada dalam kondisi hypnotist, meditasi dalam, hampirtertidur, atau pun tidur yang diertai mimpi. Frekuensi tehta yang dominan menandakan sedang terjadinya pemikiran alam bawah sadar pada otak seseorang.
dominan pada saat kita berada dalam kondisi hypnotist, meditasi dalam, hampirtertidur, atau pun tidur yang diertai mimpi. Frekuensi tehta yang dominan menandakan sedang terjadinya pemikiran alam bawah sadar pada otak seseorang.
Delta, frekuensi 0,1-4Hz.
Dominan saat dimana obyek tertidur lelap tanpa mimpi.
Dominan saat dimana obyek tertidur lelap tanpa mimpi.
Gelombang otak dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut Electro Encephalegraph (EEG). EEG sendiri ditemukan pada tahun 1929 oleh psikiater Jerman, Hans Bergev. Dan sampai saat ini hasil ciptaannya itu masih dipergunakan oleh para ilmuan dan peneliti yang ingin mengetahui aktifitas pikiran seseorang.
